Tidur Setelah Makan, Bahayakah?

Kebanyakan orang merasa mengantuk setelah makan sehingga tidur setelah makan pun tidak dapat dihindari, normal atau bahayakah? Namun, bagi sebagian orang percaya bahwa pergi tidur setelah makan merupakan ide yang buruk, dapat menambah berat badan dan berdampak negatif bagi kesehatan. Benarkah demikian?

LAYANAN Vena Wasir:
Call Center : 0821-1033-3310
Whatsapp Chat\Pendaftaran Online :
linktr.ee/venawasir

Kenapa Setelah Makan Mengantuk?

Penyebab munculnya rasa kantuk dan ingin tidur setelah makan nyatanya dapat dipengharuhi oleh makanan yang dikonsumsi seseorang.  Makanan yang kaya protein dan karbohidrat dapat membuat orang merasa lebih mengantuk daripada makanan lain.  Beberapa peneliti percaya bahwa seseorang merasa lelah atau mengantuk setelah makan karena tubuh mereka memproduksi lebih banyak serotonin.

Serotonin merupakan bahan kimia yang berperan dalam mengatur suasana hati dan siklus tidur.

Asam amino yang disebut triptofan, yang terdapat pada makanan kaya protein, membantu tubuh memproduksi serotonin. Sementara itu, karbohidrat membantu tubuh menyerap triptofan.

Untuk alasan ini, makan makanan yang kaya protein dan karbohidrat dapat membuat seseorang merasa mengantuk.

Asam amino triptofan terkandung pada makanan kaya protein seperti:

  • Ikan salmon
  • Telur
  • Bayam
  • Keju

Makanan dengan karbohidrat tinggi, seperti:

  • Nasi
  • Bonggol jagung
  • Roti putih

Selain disebabkan oleh jenis makanan yang dikonsumsi juga akibat berkurangnya aliran darah ke otak. Hal ini dikarenakan ketika lambung mencerna makanan, aliran darah akan terpusat ke saluran pencernaan. Saat hal ini terjadi, aliran darah ke otak mungkin akan jadi sedikit berkurang, sehingga muncul rasa kantuk.

Risiko Tidur Setelah Makan

Makan sebelum tidur dapat menyebabkan masalah yang lebih besar daripada rasa lapar yang dirasakan sebelum tidur. Apakah pernah mendengar saran atau peringatan untuk tidak langsung tidur setelah makan? Ternyata tidur setelah makan dapat memengaruhi kesehatan seseorang.

  1. Nyeri pada lambung

Langsung tidur setelah makan dapat menyebabkan seseorang mengalami heartburn atau nyeri pada lambung atausensasi panas pada perut bagian atas yang terkadang bahkan sampai ke tenggorokan disebabkan oleh naiknya asam lambung. Sensasi panas ini membuat tidur kurang nyenyak.

  • Obesitas

Banyak anggapan tidur setelah makan dapat menyebabkan obesitas. Hal itu disebabkan setelah  makan tidak melakukan aktivitas apapun untuk membakar kalori tersebut.

  • Stroke

Hasil studi oleh Cristina Maria Kastorini, MK, ahli gizi di University of Ioannina (Yunani)  menunjukkan risiko terjadinya  stroke  menurun sekitar dua pertiga bila menunggu minimal 1 jam setelah makan malam.

Studi ini tidak membuktikan sebab dan akibat namun hanya melihat keterkaitan antara menunggu satu jam atau lebih antara makan malam dan waktu tidur dan mengurangi risiko stroke.

Berisiko Stroke

Hasil studi dipresentasikan di European Society of Cardiology Congress (2011). Studi ini melibatkan 1000 subjek yang terdiri dari 500 subjek kondisi sehat; 250 memiliki riwayat stroke sebelumnya; dan 250 lagi didiagnosis sindrom koroner akut.

Penelitian ini menunjukkan bahwa mereka melakukan makan dan tidur dengan jarak waktu lama memiliki risiko terendah untuk terkena stroke. Mereka yang setidaknya makan satu jam sebelum tidur menurunkan risiko stroke sekitar 66%. Sedangkan mereka yang mempunyai jarak antara makan malam dan tidur sebesar 70 menit sampai 2 jam dapat menurunkan risiko stroke sebesar 76%.

Terdapat teori yang mengatakan bahwa makan mendekati waktu tidur meningkatkan risiko naiknya asam lambung ke tenggorokan sehingga menyebabkan sleep apnea yang berhubungan dengan stroke.

Sleep apnea adalah gangguan tidur ketika pernapasan sering berhenti selama tidur. Akibatnya, organ tubuh, terutama otak, mungkin tidak mendapat oksigen yang cukup, serta kualitas tidur menjadi buruk, yang dapat membuat pasien merasa lelah keesokan harinya.

Hubungan antara makan sebelum tidur dengan stroke adalah bahwa setelah makan terjadi perubahan kadar gula darah, kadar kolesterol, dan tekanan darah. Ketiga perubahan ini mungkin dapat berdampak pada peningkatan risiko stroke. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi hal ini.


Style switcher RESET
Body styles
Color scheme
Background pattern
Background image